Monday, March 28, 2016

DIMENSI MANUSIA

DIMENSI  MANUSIA




 Dimensi Kemanusiaan (Prayitno, 2009: 13-16).


Seseorang (individu manusia) yang sejak kelahirannya dibekali dengan hakekat manusia itu, untuk pengem­bangan diri dan kehidupan selanjutnya, ia dilengkapi dengan dimensi-­dimensi kemanusiaan. Dimensi-dirnensi itu, yaitu: (1) Dimensi kefitraḥan, (2) Dimensi keindividualan; (3) Dimensi kesosialan; (4) Dimensi kesusilaan dan (5) Dimensi keberagamaan (Prayitno, 2009: 13-15).
Secara grafis dirnensi-dimensi tersebut, dapat digambarkan de­ngan diagram berikut:
Kelima dimensi kernanusiaan saling terkait. Dimensi kefitraḥan menduduki posisi sentral yang mendasari keempat dimensi lainnya. Dimensi keindividualan, kesusilaan dan kesosialan saling terkait antara ketiganya, dan ketiganya, itu terkait dengan dimensi kefitraḥan dan keberagamaan. Sedangkan dimensi keberagamaan merupakan bingkai dan sekaligus wajah dari keseluruhan aktualisasi kehidupan individu dengan kelima dimensinya itu (Prayitno, 2009: 16).
Sesuai dengan tujuan penciptaan manusia, yaitu kehidupan dunia akhirat yang membahagiakan, isi kandungan kelima dimensi kemanusiaan secara hakiki mendukung kehidupan yang membahagiakan itu (Prayitno, 2009: 16). Kata kunci kandungan masing-masing dimensi kemanusiaan adalah sebagai berikut:

1) Dimensi Kefitraḥan

Kata kunci yang menjadi isi dimensi kefitraḥan adalah kebenaran dan keluhuran. Dengan dua kata kunci ini dapat dimaknai bahwa individu manusia itu pada dasarnya bersih diri mengarahkan kepada hal-hal yang benar dan luhur, serta menolak hal-hal yang salah, tidak berguna dan remeh, serta tidak terpuji. Kandungan dimensi kefitraḥan ini dapat dibandingkan dengan makna teori tabula rasa (John Locke) (Prayitno, 2009: 16).
Teori tabula rasa menyatakan bahwa individu ketika dilahirkan ibarat kertas bersih dan belum bertuliskan apapun. Dalam hal itu, menjadi juga ciri kefitraḥan individ. Indvidu dilahirkan dalam keadaan bersih sama halnya dengan teori tubularasa. Dengan kefitraḥannya itu, individu memang pada dasarnya, sejak dilahirkan dalam keadaan bersih. Namun, kondisi belum bertuliskan apapun sebagaimana dinyatakan dengan teori tabularasa, tidaklah menjadi ciri dimensi kefitraḥan yang dimaksudkan itu. Di dalam dimensi kefitraḥan telah tertuliskan kaidah-kaidah kebenaran dan keluhuran yang justru menjadi ciri kandungan utama dimensi ini. Jadi dengan demikian dimensi kefitraḥan tidak sama dengan tabula rasa menurut John Locke. (Prayitno, 2009: 17).

2)Dimensi Keindividualan   
Kata kunci yang terkandung di dalam dimensi keindividualan adalah potensi dan perbedaan. Di sini dimaksudkan bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki potensi, baik potensi fisik maupun mental-psikologis, seperti kemampuan intelegensi, bakat dan kemampuan pribadi lainnya. Potensi ini dapat berbeda-beda antara individu. Ada individu yang berpotensi sangat tinggi, tinggi, sedang, kurang dan kurang sekali. Kenyataan keilmuan yang menampilkan isi dimensi keindividualan ini adalah apa yang sering digolongkan ke dafam kaidah-kaidah perbedaan individu (individual differences) dan penampilan statistik berupa kurva (baik kurva normal ataupun kurva tidak normal) (Prayitno, 2009: 17).
 3)  Dimensi Kesosialan
Kata kunci kandungan dimensi kesosialan adalah komunikasi dan kebersamaan dengan bahasa verbal maupun non-verbal, lisan maupun tulisan. Individu menjalin komunikasi atau hubungan dengan individu lain. Di samping itu, individu juga menggalang kebersamaan dengan individu lain dalam berbagai bentuk, seperti persahabatan, keluarga, kumpulan dan organisasi (non formal dan formal). Ilmu-ilmu seperti Sosiologi, Psikologi Sosial, Politik, Teknologi Komunikasi, Manajemen mendasarkan kajiannya pada kemampuan manusia dalam berkomunikasi dan menggalang kebersamaan (Prayitno, 2009: 17-18).
4) Dimensi Kesusilaan
Kata kunci kandungan dimensi kesusilaan adalah nilai dan moral. Dalam dimensi ini, kemampuan dasar setiap individu untuk memberikan harga atau penghargaan terhadap sesuatu, dalam rentang penilaian tertentu. Sesuatu dapat dinilai sangat tingginya dengan diberi label baik, sedang dengan label cukup), atau rendah dengan label karang. Rentang penilaian itu dapat dipersempit, dapat pula diperlebar. Misalnya rentang baik-cukup-kurang dapat diperlebar menjadi baik sekali-baik-cukup-kurang-kurang sekali. Penilaian itu dapat menggunakan angka-angka mengacu pada ukuran kuantitatif dalam bentuk angka, dapat pula menggunakan ukuran kualitatif dalam bentuk pernyataan verbal (Prayitno, 2009: 18).
5) Dimensi Keberagamaan
Kata kunci kandungan dimensi keberagamaan adalah iman dan takwa. Dalam dimensi ini, terkandung pemahaman bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki kecenderungan dan kemampuan untuk mempercayai adanya Sang Maha Pencipta dan Maha Kuasa serta mematuhi segenap aturan dan perintah-Nya. Keimanan dan  ketentraman ini, dibahas dalam agama yang dianut oleh individu. Kitab suci agama serta Tafsīr yang mengiringinya rnemuat kaidah-kaidah keimanan dan ketaqwaan tersebut. Kajian tentang agama-agama di dunia menambah wawasan berkaitan dengan dipakai dan dipraktikkannya dimensi keberagamaan di dalam kehidupan manusia (Prayitno, 2009: 18-19).

1.        Kedudukan Manusia sebagai Khalīfah dan Abd


Manusia dibanding makhluk lain mempunyai kelebihan, kemampuan untuk bergerak dalam segala ruang, baik darat, laut maupun udara. Sedangkan binatang mampu bergerak diruang terbatas, ini semua karunia Allāh, berupa akal dan hati nurani, sehingga manusia dapat memahami ilmu yang diturunkan Allāh. Dengan ilmu itu, manusia mampu berbudaya. Allāh menciptakan manusia dalam keadaan ciptaan sempurna. Mempunyai martabat mulia, jika mereka tetap hidup dengan ilmu dan ajaran Allāh. Tapi jika manusia meninggalkan ajaran Allāh, yaitu tidak beriman dan amal saleh (takwa), manusia pun tidak bermartabat lagi (Wahyudin, 2009:44).
Ibadah manusia kepada Allāh lebih mencerminkan kebutuhan manusia terhadap terwujudnya sebuah kehidupan dengan tatanan yang baik dan benar. Oleh karena itu, ibadah harus dilakukan secara suka rela, karena Allāh tidak membutuhkan sedikitpun dan manusia termasuk ritual-ritual ibadahnya. melainkan seluruh makhluk termasuk manusia yang selalu membutuhkan rahmat dan karunia Allāh (Wahyudin, 2009:46).

Esensi kata ’Abd adalah ketaatan dan ketundukan. Ketaatan dan ketundukan yang terwujud dari sikap penghambaan diri, ini merupakan konsekwensi dari manusia sebagai hamba Allāh. Maka, manusia harus menghambakan dirinya hanya kepada Allāh dan dilarang menghambakan diri kepada yang selain Allāh. Ada tanggung jawab yang dipikul manusia sebagai hamba Allāh, yaitu memelihara iman dan takwa, karena ketaatan dan ketundukan itu ada jika ada iman dalam hati. Iman baru dipelihara karena iman itu bersifat fluktuatif, dan takwa juga harus dipelihara karena takwa merupakan aplikasi dari iman (Wahyudin, 2009:47).

HAKEKAT MANUSIA

HAKEKAT MANUSIA



Hakekat berasal dari kata bahasa Arab al-ḥaqīqāt yang berarti kebenaran. Hakekat manusia mengacu kepada kecenderungan tertentu memahami manusia. Hakekat mengandung makna sesuatu yang tetap, tidak berubah-rubah, yaitu identitas esensial yang menyebabkan sesuatu menjadi dirinya sendiri dan membedakannya dari yang lainnya  (Nasution, 1988: 490).
Hakekat manusia pada dasarnya membicarakan pokok soal yang bersifat radikal, yaitu berusaha menemukan akar pengertian tentang manusia yang mungkin saja, melewati batas-batas pengertian yang hanya menekankan pada salah satu aspek kehidupannya, seperti yang terdapat dalam kajian berbagai disiplin ilmu, umpamanya antropology, sosiologi dan psikologi. Hakekat manusia adalah sesuatu yang amat vital yang menentukan kehidupannya ditengah kancah perubahan masyarakat. Al-Qur`ān menegaskan bahwa yang dilihat pada manusia tidak lain,  hanyalah amal perbuatannya atau pekerjaannya. Firman Allāh SWT menegaskan:
Artinya:
           “Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allāh dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allāh) yang mengetahuxi akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan” (Q.S. At-Taūbah [9]:105).

Ayat di atas, secara tegas menegaskan bahwa apa yang dikerjakan manusia adalah yang menentukan eksistensinya, baik dihadapan Tuhan, Rosul-Nya, maupun bagi orang-orang yang beriman. Pekerjaan atau tindakan manusia merupakan perwujudan sepenuhnya dari dirinya mewakili citra dirinya dan menjadi ukuran untuk menilai dirinya. Selanjutnya Allāh SWT berfirman :
Artinya:
“(39) Katakanlah: "Hai kaumku, Bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, Sesungguhnya Aku akan bekerja (pula), Maka kelak kamu akan mengetahui; (40) Siapa yang akan mendapat siksa yang menghinakannya dan lagi ditimpa oleh azab yang kekal". (Q.S. Al-Zumar [39] :39-40)

Pandangan yang lebih menyeluruh seharusnya merupakan hasil pemikiran yang tidak hanya berkisar pada kajian tentang manusia dalarn kaitannya dengan diri sendiri dan lingkungan dunia yang masih terbatas, melainkan menjangkau hakekat manusia secara menyeluruh dan utuh. Pandangan yang menyeluruh dan utuh ini hendaknya mampu menjelas­kan secara penuh harkat dan martabat manusia (Prayitni, 2009:13).
Dari dokumen yang pernah dikumpulkan manusia yang mencerminkan kebutuhan-kebutuhan, kemampuan berpikir dan merasanya, kehidupan dan budayanya, kemampuan untuk rnerambah dan mengua­sai lingkungannya serta menjangkau daerah-daerah yang semakin luas, serta kemampuan spiritual sampai keimanan dan ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, dapat ditarik kesimpulan tentang hakekat manusia yang di dalamnya terkandung harkat dan martabat manusia, yaitu:
1)      makhluk yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2)      makhluk yang paling indah dan sempurna dalam penciptaan dan pencitraannya
3)      makhluk yang paling tinggi derajatnya
4)      Khalīfah  di muka bumi
5)   pemilik hak-hak asasi manusia(Prayitno, 2009: 14).


Hakekat manusia adalah amalnya, karya, dan dalam karya terjelma nilai-nilai kemanusiaannya. Manusia menampakan dirinya secara nyata dalam karya dalam wujud kebudayaan. Kebudayaan sebagai penjelmaan kesatuasn eksistensi diri manusia sebagai hamba Allāh adalah karya nyata dari manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi dalam karyanya, totalitas diri (Jasad, ḥayat dan Rūḥ). Manusia meyatu secara nyata dan dinamis melalui karyanya kualitas kemanusiaan akan dilihat oleh Allāh dan Utusannya serta orang-orang yang beriman hanya melalui melalui karyanya yang baik, diri manusia akan dapat menemui Tuhannya  (Asy’arī, 1992:91).

HUBUNGAN RŪḥ DAN TUBUH

HUBUNGAN RŪḥ DAN  TUBUH


Al-Gazali menjelaskan Rūḥ manusia dalam hubungannya dengan tubuh mempunyai hubugan dengan hati. Empat istilah kata yang dimaksud adalah 1) qalb`(hati); 2) Rūḥ (Jiwa); 3) nafs (nafsu); 4) ’aqal (akal) (Othman, 1987:131).




1.        Qalb` (hati)
 Dianggap sebagai batin di mana terdapat pikiran yang sangat rahasia dan murni dengan perkataan lain merupakan dasar yang paling dalam sifat pengetahuannya. Hati terdapat di dalam hati badaniah dan berkenaan dengan lațīfah manusia  selama berada di dalam tubuh manusia. Oleh karen itu hati manusialah yang bertanggung jawab kepada Allāh SWT (Othman, 1987:132).
2.        Rūḥ (jiwa)

Rūḥ menunjukan kelembutan Allāh berada di dalam hati badaniah.  Dimasukan ke dalam tubuh manusia melalui saringan yang halus. Pengaruhnya,  terhadap tubuhnyalah seperti lilin di dalam kamar. Tanpa meninggalkan tempatnya, cahayanya memancarkan sinar kehidupan bagi seluruh manusia (Othman, 1987:132).
3.        Nafs  (nafsu)
Menurut Al-Gazali (Othman, 1987: 133) bahwa nafs  secara etimologis artinya peniupan. Ada tiga perwujudan nafs   di dalam Al-Qur`ān, yaitu:
Pertama , nafsu yang tenang dan tentram.  Sesuai dengan firman Allāh SWT :
Artinya:
“(27)  Hai jiwa yang tenang; (28) Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya (Q.S. Al-Fajr [89] :27-28).

Kedua, nafsu yang disalahkan . Merupakan suatu keadaan  di mana nafsu itumasih berusaha melawan amarah dan gairah dan oleh karenanya belum mencapai kedamaian dan bersifat melulu untu pengetahuan. Sesuai dengan firman Allāh SWT :
Artinya:
“  Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri) (Al-Qiyāmah [75]: 2).

Ketiga, nafsu yangmengendalikan kejahatan. Keadaan dimana  diri yang melepaskan dengan pikiran gairah dan berhasil tnduk terhadapnya. Allāh SWT berfirman:

Artinya:
     “ Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang” (Q.S. Yūsuf [12] :53).
  4.        Aql (akal)
Menurut Al-Gazali bahwa akal adalah bagian yang merasakan pengetahuan. Oleh karena itu,  pengetahuan mempunyai dwi fungsi yaitu; Pertama, mencapai kemajuan untuk pemenuhan diri, dan Kedua,  merupakan suatu cara yang progresif untuk mengetahui Allāh (Othman, 1987: 134).
















TAHAPAN PENCIPTAAN MANUSIA (Sudut Pandang AL-Qur'an)

TAHAPAN PENCIPTAAN MANUSIA
(Sudut  Pandang AL-Qur'an)
M. Andhis Abdillah S.Pd.

Penciptaan adalah suatu peroses mewujudkan gagasan dalam kenyataan. Kata penciptaan mengandung beberapa bagian atau komponen yaitu adanya pencipta/ pelaku penciptaan, adanya bahan/ material yang dipakai, cara atau metode penciptaan, transformasi dan model khusus dari hasil akhir atau penggunaannya (Asy’arī ,1992:55). Dalam Al-Qur`ān bahwa Tuhanlah pencipta semua yang ada di muka bumi. Sesuai denga firman Allāh SWT:
Artinya:

“ Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allāh". Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allāh, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?". Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allāh yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allāh adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa". (Q.S. Ar-Ra’du [13] :16)

Penciptaan manusia adalah suatu peroses yang secara individual manusia tidak terlibat di dalamnya keterlibatan Tuhan dalam peroses penciptaan diatur melalui hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya. Tahapan  penciptaan manusia, antara lain;
a.      Tahap jasad
Menurut pandanga para ahli makna jasad di antaranya:
1)      Abu Ishak menjelaskan bahwa “Jasad ialah sesuatu yang tidak bisa berpikir dan tidak dapat dilepaskan dari pengertian bangkai”.
2)      Al-laīs menjelaskan bahwa “Jasad adalah makhluk yang berjasad adalah makhluk yang makan dan minum.
3)      Tafsīr al-fakhr' al-rāzī menjelaskan bahwa “ Jasad adalah tubuh manusia berupa jasad dan daging. dalam Al-Qur`ān dijelaskan bahwa jasad manusia itu memerlukan makanan dan tidak kekal”(Asy’arī ,1992:56).

Al-Qur`ān menjelaskan bahwa permulaan penciptaan manusia  dalah dari tanah. Adapun istilah tanah dalam ditemukan yaitu turāb dan Śalśal (Asy’arī ,1992:65).
1)      Turāb, yaitu tanah berdebu dan pada ayat lain disebut Tīn artinya tanah lempung (Asy’arī ,1992:65). Allāh SWT berfirman:
Artinya:
“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang dia sendirilah mengetahuinya), Kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu” (Q.S. Al-An’ām[6]: 2).

Tanah yang yang disebut Tīn ini mempunyai sifat melekat dan dalam hal ini (Asy’arī ,1992:65). Allāh SWT berfirman:
Artinya:
“ Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): "Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang Telah kami ciptakan itu?" Sesungguhnya kami Telah menciptakan mereka dari tanah liat” (Q.S. Aș-Șafat  [37] : 11).
2)        Śalśal artinya tanah liat. Allāh SWT berfirman:
 Artinya:
“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar” (Q.S. Ar-Raḥmān [55]:14).

Mengenai tanah ini, pada ayat lain dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan tanah adalah saripatinya. Allāh SWT berfirman:
Artinya:
Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.”  (Q.S. Al-Mu'minūn [23]:12).

b.        Tahap Hayat
Al-ḥayyat artinya hidup, lawan kata dari al-Maūt artinya mati. Kata al-Ḥayy untuk menyebut segala sesuatu yang tidak mati, bentuk jamaknya ialah al-aḥyā`. Hakekat hidup adalah gerak. Jadi esensi hidup ada pada gerakan, suatu kehidupan tidak dapat dimengerti tanpa adanya gerakan dan dalam setiap gerakan terpancar adanya kehidupan. Benda yang hidup adalah benda yang mengalami gerakan, sebaliknya benda yang mati adalah benda yang tidak adanya  gerakan (Asy’arī, 1992 :67). Al-Qur`ān menyatakan bahwa kehidupan itu bermula dari air. Seperti yang diterangkan dalam Al-Qur`ān:
Artinya:
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, Kemudian kami pisahkan antara keduanya. dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Q.S. Al-Anbiyā` [21] : 30).

c.          Tahap Rūḥ
Kata  Rūḥ artinya yaitu angin. Oleh karena itu ar-Rūḥ diesbut Al-nafs yaitu napas atau nyawa. Pandangan para mufasīr berbeda-beda di antaranya;
1)      Abu Bakar al-Anbari mengemukakan, kata  ar-Rūḥ dan Al-nafs’ menurut artinya sama yaitu jiwa.
2)      Abu Haițam menyatakan bahwa Rūḥ adalah nafas yang berjalan di seluruh jasad.Jika Rūḥ keluar maka manusia tidak akan bernafas.
3)      Ibnu Kaśīr mengemukan Rūḥ itu diapakai ddalam berbagai arti tetapi yang paling umum ialah suatu yang dijadikan sandaran bagi jasad dan dengan Rūḥ itu tercipta kehidupan.
4)      Al-farābi mengemukakan kata ar-Rūḥ itu mempunyai banyak arti yaitu (1) al-farh artinya kegembiraan (2) Al-Qur`ān (3) al-amr` artinya perintah atau arah (4) Al-nafs artinya jiwa (Asy’arī, 1992:70-71).
      
       Di dalam Al-Qur`ān  terdapat 21 kata ar-Rūḥ dalam 20 ayat. Kata ar-Rūḥ digunakan dalam Al-Qur`ān dengan berbagai arti dan konteks, di antaranya;
1)      Kata ar-Rūḥ dikaitkan dengan kata al-qudūs. Allāh SWT berfirman:

 Artinya:
 “ Dan Sesungguhnya kami Telah mendatangkan Al Kitab (Taūrat) kepada Musa, dan kami Telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan Telah kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; Maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?” (Q.S. Al-Baqarah [02] : 87).
           
Tentang makna ar-Rūḥ al-qudus ini, ada beberapa pendapat. Pertama, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ar-Rūḥ al-qudus adalah malaikat Jibril. Kedua, kitab Injil. Ketiga, Rūḥ yang dapat menghidupkan orang mati. Keempat, Rūḥ yang dianugrahkan kepada Nabi Isa a.s. sebagai penghormatan kepadanya ( Asy’arī, 1992: 72).
2)          Kata ar-Rūḥ dikaitkan dengan kata al-amīn. Allāh   SWT berfirman:
           
         Artinya:
“Dia dibawa turun oleh Ar-RūḥAl-amīn (Jibril)” (Q.S. Asy-Syu’arā` [26] : 193).

                Makna ar-Rūḥ al-amīn adalah malaikat Jibril yang terpercaya untuk menyampaikan wahyu kepada nabi-nabi Allāh.

3)          Kata ar-Rūḥ sebagai perintah Allāh yang disampaikan malaikat kepada hamba-hamba Allāh. Allāh SWT berfirman:
        Artinya:
“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: "Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku" (Q.S. An-Naḥl [16] :2)

4)        Kata ar-Rūḥ untuk menyatakan sesuatu yang dihembuskan dari Tuhan ke dalam diri manusia, dan menjadi bagian dari manusia. Dan selanjutnya Tuhan juga menjadikan untuknya pengelihatan, pendengaran dan hati. Allāh SWT berfirman:
        Artinya:
“Kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur” (Q.S. As-As-Sajdah  [32] : 9).

d.        Tahap Nafs
Menurut Ibnu Ishak kata nafs dalam bahasa Arab digunakan dalam dua pengertian. Pengetian pertama seperti dalam ungkapan telah keluar  nafas seseorang atau nyawanya, sedangkan pengertian kedua seperti dalam ungkapan yaitu seseorang telah membunuh dirinya, artinya ia telah menghancurkan seluruh dirinya dan hakekatnya (Asy’arī, 1992: 78). Menurut Ibnu al-Bari bahwa nafs bisa bermakna Rūḥ dan bisa bermakna hal yang bisa membedakan sesuatu dari yang lain. Menurut Ibnu Abbas, dalam setiap diri manusia terdapat dua unsur nafs, yaitu akal yang bisa membedakan sesuatu, dan rūḥ yang menjadi unsur kehidupan (Asy’arī, 1992: 78).
            Di kalangan fisalat Islām, nafs diartikan sebagai jiwa. Pengertian ini dipengaruhi oleh alam pikiran Yunani, yaitu dari Aristoteles, yang dalam bukunya Nicomachean Ethics menyatakan bahwa jiwa (the soul) di bagi menjadi dua bagian, yaitu (1) Jiwa Irrational dimiliki bersama oleh manusia dan semua yang hidup serta tumbuh-tumbuhan yang menyebabkan adanya pertumbuhan dan perkembangan (2) Jiwa Rational adalah berpikir dan memutuskan, yang khusus dimiliki oleh manusia (Asy’arī, 1992: 78).
Teori ini, oleh Ibnu Sina dikembangkan dengan menyatakan adanya tiga jiwa yaitu (1) Jiwa tumbuh-tumbuhan (Al-nafs’Al-Nabatiyyah) (2) Jiwa Binatang ( Al-nafs’Al-hayyawaniah) (3) Jiwa manusia ( Al-nafs’Al--Insāniah). Jiwa tumbuh-tumbuhan (Al-nafs’Al-Nabātiah) mempunyai tiga daya, yaitu (1) Daya membiak (Al-Muwallidah) (2) Daya makan (al-Gadiah) dan (3) Daya Tumbuh (Al-Mu’niah). Jiwa Binatang mempunyai dua daya, yaitu (1) Daya penggerak ( Al-Muharrikah) dan (2) DayaMenserap (Al-Mużrikah) sedangkan jiwa manusia hanya memiliki daya berpikir yang disebut akal ( ’aqal) (Asy’arī, 1992: 78).
 Dalam Al-Qur`ān terdapat 140 ayat yang menyebutkan kata Nafs bentuk jamaknya Nufūs`terdapat dalam 2 ayat dan bentuk jamak lainnya anfūs terdapat dalam 153 ayat. Al-Qur`ān menggunakan kata nafs dalam empat pengertian yaitu;
Pertama, dalam pengertian nafsu. Allāh SWT befirman:
Artinya:
     “Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi raḥmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang” (Q.S. Yūsuf [12] : 53).

Kedua, dalam pengertian nafas atau nyawa. Allāh SWT berfrman:
Artinya:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (Q.S. Al-’Imrān [03] :185).

Ketiga, dalam pengertian jiwa. Allāh SWT berfirman:
Artinya:
“(27)  Hai jiwa yang tenang. (28)  Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diriḍāi-Nya. (29)  Maka masuklah ke dalam Jama’ahhamba-hamba-Ku. (30)  Masuklah ke dalam syurga-Ku (Q.S. Al-Fajr [89] : 27).

Keempat,  dalam pengertian diri dan kepribadian     
Artinya:
“ Katakanlah: "Apakah Aku akan mencari Tuhan selain Allāh, padahal dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan” (Q.S. Al-An’ām[06]: 164).

Jasad sebagai sarana perhubungan fisik dengan alam sekitarnya, yang merupakan bahan dasar bagi pembentukan kebudayaan. Ḥayat  sebagai daya hidup yang menggerakan seluruh potensi diri dalam peroses pembentukan kebuadaayn dan Rūḥ sebagai kekuatan yang bersifat kereatif yang memungkinkan munculnya gagasan-gagasan dalam suatu konsep pembentukan kebudayaan (Asy’arī, 1992 :84).
Berbagai pandangan tentang manusia tersebut berorentasi pada ke­beradaan dan kehidupan manusia sebagaimana adanya di dunia. Ma­nusia dipandang sebagai suatu keberadaan dengan berbagai kondisinya, didalami, dianalisis, dan bahkan diukur. Dalam pandangan tersebut, manusia dipahami dalam konteks keduniaanya, sedangkan sisi keakhi­ratannya, yaitu sisi dari mana manusia berasal dan akan kembali, belum menjadi bagian dari pandangan terdahulu itu. Pandangan-pandangan seperti itu belumlah lengkap, mengingat bahwa manusia bukanlah seke­dar makhluk keduniawian, melainkan juga makhluk dengan sisi keakhi­rattan (Prayitno, 2009: 13).
Plato mengibaratkan (Tafsīr, 2006: 10) bahwa “ Jiwa manusia memiliki tiga elemen, yaitu roh, nafsu, dan rasio”.  Dengan mengandaikan bahwa Rūḥ itu sebagai kuda putih yang menarik kereta bersama kuda hitam (nafsu), yang dikendalikan oleh kusir yaitu rasio yang berusaha mengontrol laju kereta. Sesuai dengan firman AllāhSWT:
Artinya:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allāh kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiamu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allāh telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allāh tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan”(Q.S. Al-Qașaș [28]:77).

Pribadi manusia merupakan kombinasi dari Rūḥ dan badan yang memiliki duniannya sendiri-sendiri yakni; dari amr dan khaliq. Alasan utama dari penciptaan Rūḥ ialah agar manusia  berada berada di dunia memperoleh pengetahuan dengan menggunakan akal pikiran untuk mengetahui ciptaan Allāh dan melalui hal tersebut kemudian ia juga mengenal Allāh (Othman, 1987: 117). Al-Gazali menjelaskan bahwa:
Pembentukan (Taswiyyah)  merupakan suatu peroses yang timbul di dalam materi yang membuatnya cocok untuk menerima Rūḥ materi itu merupakan saripati tanah liat nabi adam yang merupakan cikal bakal bagi keturunannya. Cikal bakal atau sel benih  (Nutfaḥ) ini, yang semula adalah tanah liat, setelah melewati berbagai peroses  akhirnya menjadi manusia. Tanah liat berubah menjadi makanan (melalui tanaman dan hewan). Makanan menjadi darah, darang menjadi sperma jantan dan indung telur betina. Sperma Jantan kemudian bersatu dengan indung telur betina dalam suatu wadah. Hasil dari persatuan yang terjadi di dalam rahim ini setelah melalui suatu peroses transformasi  yang panjang sehingga mencapai resam tubuh yang harmonis  dan menjadi cocok untuk menerima rūḥ (Othman, 1987: 115).

Al-jism (tubuh) adalah bagian yang paling tidak sempurna pada manusia. Ia terdiri atas unsur-unsur materi, yang pada suatu saat posisinya bisa rusak. Karena itu, ia tidak kekal. Di samping itu, al-jism  tidak mempunyai daya sama sekali. Ia hanya memiliki prinsip alami yang memperlihatkan bahwa ia tunduk kepada kekuatan-kekutan di luarnya. Tegasnya,  al-jism tanpa al-Rūḥ dan al-Nafs  adalah benda mati (Nasution, 1998 : 65). Menurut Al-Gazali bahwa:
Segala sesuatu yang ada di dalam diri mansuia, dari seleranya yang terendah sampai  kelengkapan yang tertinggi, masing-masing mempunyai tempat dan tujuan di dalam mencapai dalam mencapai tujuan akhirnya dengan mengecualikan Rūḥ. Setiap sifat yang dimiliki manusia  memiliki dua bisikan hati implus yakni; Pertama, untuk mendapatkan sesuatu yang dapat memuaskan dirinya sendiri atau dalam mengejar tercapainya kebahagian yang sesungguhnya, tanpa menghiraukan akibatnya, terhadap perkembangan pribadinya secara utuh; dan Kedua,  dalam rangka memainkan peranananya di dalam suatu keselarasan, yang diperlukan antara sesuatu, yang menjadi dasar kepribadian manusia. Aspek yang disebut pertama itulah yang membuat dirinya sulit untuk mencapai tujuaannya secara baik dan ini pula yang menempatkan dirinya di dalam percobaan (Othman, 1987: 121-122).

Menurut Al-Gazali (Othman, 1987:124) bahwa “ Kebahagiaan manusia mempunyai empat bagian; 1) pengetahuan tentang manusia itu sendiri (Rūḥ dan tubuh); 2) pengetahuan tentang Allāh 3) pengetahuan tentang dunia ini menurut kenyataannya;  4) pengetahuan tentang dunia Illahi sebagaimana adanya.
Diri manusia (Nafs) tidak dapat dijawab secara sederhana pengertian ini dimaksudkan bahwa Rūḥ badan terikat dan berkeja bersama-sama, tetapi pernyataan ini mengandung beberapa pertanyaan seperti misalnya apakah sifat keperibadian manusia dan hubungan antara Rūḥ dan badan.


1)        Sifat kepribadian manusia

Corak sifat kepribadian manusia dan peran manusia di dalam pengembangannya, terutama dimaksudkan untuk memperlihatkan berbagai keadaan Rūḥ dalam kepribadian seseorang. Al-Gazali mengemukakan bahwa:

Adanya suatu hirarki dalam tujuan yang menguasai analisisnya dan merupakan dasar konsepsinya tentang tingkatan yang normal pengembangan pribadi manusia dan dari pengalaman dan dari penahanan atau penjerumusan tipe-tipe manusia (Othman, 1987: 131).